Setelah pensiun dari ketentaraan tahun '64 , Bapak mencoba beberapa profesi sebelum akhirnya menjadi penjahit. Berhubung anak seorang penjahit (belum pernah merasakan jadi anak tentara) celana dan baju saya sampai dengan SMA yang membuat/menjahit Bapak. Sejauh ingatan saya , saya tidak pernah dibelikan baju yang sudah jadi.

Setelah sekian lama akhirnya saya memutuskan untuk membeli mesin jahit dan berniat mulai belajar menjahit di usia sudah berkepala lima. Ada beberapa hal yang mendorong diambilnya keputusan itu. Yang pertama setiap kali beli celana panjang harus dilipat dulu panjangnya sebelum nanti dipotong oleh kakak pas mudik. Kemudian rasanya sedih setiap kali memakaikan baju seragam anak-anak, karena kualitas jahitannya yang jelek sekali dan kebetulan anak laki-laki saya punya ukuran yang agak spesial sehingga susah mencari padanan ukurannya.

Jadi kepikiran bahwa semestinya sekolah-sekolah kita mestinya mempersiapkan siswanya dengan ketrampilan-ketrampilan seperti ini. Karena lulusan sekolah tidak selalu beruntung dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau diterima bekerja di tempat yang layak. Ada beberapa ketrampilan yang bisa disiapkan seperti menjahit, pertukangan, perpipaan (plumbing), perlistrikan (instalasi listrik rumah). Ketrampilan-ketrampilan itu bisa langsung dipraktekan oleh siswa untuk mencari nafkah, atau dapat menjadi tambahan pengalaman waktu melamar kerja. Ada negara di Eropa yang sudah melakukan hal ini dengan latar belakang yang sama.