Sudah nasib rakyat Indonesia hidup di atas patahan dua lempeng benua. Sebagian besar wilayah Indonesia adalah wilayah rawan bencana gempa kecuali Pulau Kalimantan. Termasuk Bandung yang tepat berada di atas patahan lembang dan di lereng gunung Tangkuban Perahu, intaian bencana gempa tektonik maupun bencana gunung berapi sebenarnya hanya masalah waktu saja.
Sebagai umat beragama kita sering menyikapi bencana sebagai salah satu bentuk peringatan dari Yang Maha Kuasa atau bentuk cobaan supaya kita selalu introspeksi diri dan meningkatkan tingkat ketaqwaan kita. Sikap seperti ini jika diterapkan pada bencana gempa bumi menurut saya perlu dikritisi. Bencana gempa bumi untuk kita masyarakat bangsa Indonesia sebenarnya hanyalah masalah waktu yang tidak bisa diketahui dengan pasti kapan akan terjadi, tetapi suatu saat pasti terjadi. Sama halnya dengan kita sakit atau kita akan mati suatu hal yang pasti terjadi.
Karena bencana gempa bumi suatu saat pasti akan terjadi dilingkungan kita yang lebih penting adalah bukan bagaimana menyikapi setelah gempa terjadi tapi justru bagaimana menyikapinya sebelum bencana terjadi.
Sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana itu jika pada saatnya nanti menimpa lingkungan kita. Sikap bisa mulai dari keluarga kita sendiri misalnya bagaimana mempersiapkan pembangunan rumah kita yang lebih tahan terhadap gempa, para ahli bangunan perlu lebih banyak mempublikasikan disain rumah tahan gempa yang mudah diterapkan oleh masyarakat. Kita mulai sering mengingatkan anggota keluarga kita apa yang perlu dilakukan jika terjadi gempa, para ahli mitigasi gempa perlu lebih intensif mempublikasikan cara-cara menyelamatkan diri dari bencana gempa. Perlu dibuatkan banyak leaflet/brosur bergambar tentang antisipasi bencana gempa dan disebarluaskan. Pemerintah perlu makin ketat dalam mensyaratkan spesifikasi bangunan tahan gempa baik untuk perumahan maupun bangunan umum.
Mungkin masih banyak lagi yang perlu kita persiapkan sebelum bencana terjadi sayang saya tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menyampaikannya.
Mari bersama kita hadapi gempa baik setelah maupun sebelum terjadi, gempa bukanlah bencana yang hanya menghampiri kita kalau kita berbuat maksiat, gempa bagaimanapun juga akan menghampiri kita baik kita rajin berdoa maupun tidak, siap ataupun tidak. Seperti halnya MATI sebaiknya kita mempersiapkan diri sewaktu masih HIDUP !
Hidup di Atas Patahan
// October 2nd, 2009Salah kaprah?
// September 3rd, 2008Ahahahaha….
lagi2 saya dikira orang lain. Tapi kali ini karena ada link antara blog saya dgn blog suami…jadi tulisan2 saya somehow dia-link ke blognya, jadi muncul juga di halamannya.
Salah kaprah (bener ngga? maklum rada kurang cerdas…)
Bagus juga, bisa untuk promosi -apaan??-, soalnya senang juga kalau dapat comment atas suara sumbang saya.
Pernah juga sih, ada comment yang sifatnya “merusak”. Vandalisme, kalau bisa dibilang. Spt pernah ada yg mengomentari tulisan saya tentang satu kejadian di bulan suci Ramadhan. Akhirnya comment tadi disepam (!) karena berpotensi menimbulkan prasangka. Judulnya jadi salah kaprah.
Tapi saya masih ke-ge-er-an dengan salahkaprah -eh, salahsangka ini.
15 minutes of fame?Haha.
Alone (again?)…naturally…
// July 13th, 2008Well…..am not exactly alone. Tapi setelah 3 tahun ini sepertinya baru sekarang saya ngerasa so…lonely. I’ve got may little family near me, tapi koq rasanya sepi….?
Dulu saya sering ngerasa kayak gini. Alone in the crowd, menurut paririmbon bahasa planet. Saya ada di tengah teman2 sekelas jaman Sekolah, yg paling tidak ada 45 orang. Tapi saya ngerasa kesepian.
Mungkin bawaan saya yang sejak kecil dianggap “anak kecil” oleh teman2 sendiri, antara lain karena size badan saya yang memang termasuk paling imut di kelas; belum perilaku saya yg mereka anggap polos, mirip anak kecil. Bahkan ketika kemudian, saya tidak laki berperilaku mirip anak kecil, saya tetap dianggap anak kecil. Lagi2 karena ukuran body yg mungil alias kuntet. Bener2 deh. Ingatan tentang cap anak kecil itu bahkan sudah mulai sejak TK, waktu saya menggambar matahari dengan cara yg dianggap “tidak lazim” alias “tidak seragam” oleh teman satu group saya. Saya ngga pernah lupa kata2nya sampe sekarang “”biar aja, ngga apa2, dia kan masih kecil”….Padahal mereka sama ‘kecil’nya dengan saya -wong temen sekelas!
Waktu SMP, teman sekelas saya kelas 1, kebetulan laki2, bilang “Kamu tehlucu ya…kayak anak kecil…” -yang saya terjemahkan sebagai “kamu koq kuntet?”…. sementara yg bilang adalah anak yg badannya segede gaban; tinggi dan gemuk. Besar banget lah, pokoknya! Sempat ada perasaan senang juga dianggap kecil, karena anak2 yg ‘besar’, terutama laki2, cenderung lebih protektif sama saya. Tapi waktu upacara bendera tiap senin pagi (dan penurunan bendera sore, waktu masuk siang), terpaksa saya kebagian berdiri paling depan. Sikap badan harus sempurna, ngga bisa curi2 ngobrol bergossip dgn tmn2, ngga berani nguap karena di depan deretan guru plus wali kelas yg siapsedia melototin anak muridnya yg tidak tertib.
Waktu SMA, saya selalu kebagian diantar pulang paling dulu kalau anak2 sekelas main ampe malem. Sebenernya ini ada hubungannya dgn sikap ayah saya yg (sok) galak, beranggapan bahwa semua laki2 di dunia -kecuali dirinya- adalah penjahat (kelamin) yang siap melahap anak gadisnya. Tapi, lagi2, saya kebagian posisi depan waktu upacara bendera. Hhh…nasib…
Waktu kuliah, saya manfaatin aja size badan (yg udah mulai bulet -demplon, klu menurut temen2 main jaman kuliah) untuk nyelamatin diri dari deraan ospek. Lumayan, sbg seksi mampus saya ngga kebagian lari2 keliling bukit, nyebur ke sungai dan minum segelas rame2 berduabelas. Saya bisa dapet jatah makan lebih dulu, dan enak2an tidur siang di pos mampus. Haha.
Kemudian, lamaaaa kemudian, baru saya sadari juga bahwa perilaku saya yg seperti itu yang mendukung perasaan sepi alias lonely, dan terasing dari keramaian. Padahal semua ada di dkt saya.
…Dan yang paling jelas, saya merasa bahwa saya bukan subyek yang dianggap menarik untuk selalu diajak ‘bermain bersama’, oleh teman2 sekolah, sampai akhirnya saya menemukan teman2 yang menganggap saya ada, eksis klu kt ABG skrg. Waktu kuliah dan setelah mulai kerja. Rasanya “serangan sepi” itu cuma muncul ketika saya benar2 alone in the crowd i didn’t recognize.
Satu hal lagi yang saya sadari, bahwa serangan tadi kadang muncul ketika saya menutup diri dari dunia sekeliling. Biasanya saya lakukan waktu saya kesal, marah pada seseorang atau sesuatu. Seperti sekarang. Satu2nya obat adalah dengan berusaha untuk ‘tidak kesal &/atau tidak marah’, karena posisi saya sekarang membuat saya harus menelan kekesalan ataupun rasa marah. Karena jika tidak, akibatnya seperti saat ini, perasaan sepi dan terasing muncul lagi.
Saya memang bikin kesalahan dengan merasa kesal dan marah. Tapi sepertinya memang saya harus (selalu) menelan semuanya bulat2, karena saya sudah berjanji akan berusaha, sangat berusaha, menjadi pendamping yang (ter)baik.
Sepertinya saya harus mengingatkan diri sendiri lagi. Sekali lagi, untuk menghilangkan semua emosi. Dalam bentuk apapun. Karena saya hanya boleh senyum dan bersikap baik pada semua orang. Supaya bisa dianggap manusia.
Seandainya Ayu Utami…
// June 1st, 2008Saya pernah menulis tentang Ayu Utami dan salah satu artikelnya yang berhubungan dengan mie instan. Waktu itu saya memang sedikit banyak terinspirasi cerita mie instan mbak Ayu, dan kesadaran sebagai konsumen yang (rada2) nagih mie instan, both karena enak dan gampang bikinnya.
Postingnya sih sudah lumayan lama, tapi ternyata sampai sekarang saya masih terima comments untuk tulisan tersebut (ada juga ya yg mau mbaca tulisan saya!? heuheuheu). Yang bikin kaget, beberapa diantara komentator sepertinya mengira tulisan tsb sebagai tulisan Ayu (waw!)… Tapi sebagian yang lain jelas2 tahu bahwa itu tulisan saya yang selalu nyablak dan korslet. Saya jelas rada ge-er…tapi sekaligus was-was, takut dikira plagiator alias tukang photocopy karya orang lain. Padahal saya cuma ‘kurang kreatif’ -yeah, right!
Kadang saya pengen banget membalas komentar bbrp rekan yang (kayaknya) salah tafsir tadi, tapi ngga jadi. Bukan karena saya mau membiarkan diri menikmati rasa ge-er dikira sebagai seleb (hmph!), tapi karena saya justru takut dikira ge-er, merasa bahwa mereka mengira saya adalah Ayu. Jadilah saya terdiam sendiri sambil senyam-senyum-mesem…bingung mau ngapain.
Yah, setidaknya sedikit banyak saya jadi terinspirasi buat nulis lagi di blog ini. It’s been a while juga soalnya; a loooooooooooooooong while. Sibuk dengan urusan “dewi lokal” (baca: Domestic Goddess), dengan segala aktivitas yang bikin heboh semua orang, termasuk nyaris membakar dapur karena kelupaan ‘ninggalin katel isi minyak di atas kompor. Ck..ck..ck..
Seandainya Ayu Utami di posisi “dewi lokal”, apa dia akan melakukan keteledoran yang sama?
Rasanya tidak; setidaknya menurut saya, karena yang selalu saya bayangkan adalah Ayu Utami si parasit lajang (maaf ya mbakAyu, bukan menjudge hanya menilai -apa bedanya??), yang masih menempel pada ‘inang’nya.Mungkin ada miripnya dgn masa2 saya sebagai parasit lajang jaman dulu. Hidup seperti tanpa beban kecuali kekhawatiran kapan saya naik gaji atau kapan saya dapat kerjaan tetap yang bonafidh sesuai harapan orangtua, kapan saya ketemu jodoh -yang ini lebih terasa kalau ada undangan pernikahan yang tiba2 muncul di pintu rumah, dari salah satu relasi keluarga atau teman saya. Soalnya pasti mendadak mata orangtua saya jadi terlihat khawatir sekaligus gemas setiap melihat saya. Padahal yg dipelototin lempeng2 aja…(sambil cemas juga jauuuuh di dalam.)
Seandainya Ayu Utami dan saya bertukar profesi sekarang ini, dijamin saya cuma bakal menjatuhkan nama seorang Ayu Utami. Saya belakangan sering browsing lihat2 tulisan yang ada hubungannya dengan matakuliah yang saya pegang, dan menemukan bahwa ternyata saya ketinggalan jauh dalam hal tulis-menulis. Bukan hanya karena tidak produktif, tapi terutama karena banyak banget blogger dan penulis artikel yang lebih muda, membahas topik terkini dengan tajam, kritis, kadang sinis, dengan dukungan data superlengkap, dan lengkap juga dengan link kesana-kemari, plus daftar pustaka yang berderet. Hasilnya, tulisan yang menurut saya dashyat. …dan disinilah saya; terinspirasi tulisan2 mereka; dan dengan semangat mulai menyiapkan bahan kuliah dengan rujukan tulisan2 itu; dan merasa sangat tidak ‘nyaman’ disaat yang sama. Terasa sekarang betapa saya tidak produktif, padahal fasilitas penunjang sudah lengkap: browsing bisa kapan saja (kalau ‘boss kecil’ saya sudah lelap tidur, tentunya), ada ‘occasion’ yang menuntut saya untuk produktif menghasilkan sesuatu. Tapi tetap saja, saya (merasa) sibuk bertugas sebagai ’sang dewi’; dan merasa sangat malu dan ngga pe-de. Saya makin merasa betapa saya tidak berusaha meng-update isi kepala, padahal teknologinya di depan mata. A single -or double- click, and the world will be opened widely Tapi ya dasar sifat manusia (baca: saya): malas. Saya pun berubah jadi makhluk kecil (kalau ngga bisa disebut kerdil) mirip si Plankton yang selalu ambisius pengen mencuri resep rahasia crabby-patties. Bedanya adalah, plankton selalu berusaha meng-update cara terbaik untuk merampok si resep rahasia, sementara saya (merasa) sibuk dengan ‘dunia kecilku’.
Tapi seandainya Ayu Utami ada di posisi saya, belum tentu juga dia bisa jadi the real goddess seperti saya ini…hehehe. Atau malah neng Ayu jadi lebih baik dari saya??
Seandainya Ayu Utami baca tulisan saya, pasti dia eneq deh. Dijadiin obyek tulisan ngalor-ngidul orang insomnia ini.
One more thing.
Saya ‘pinjam paksa’ nama Ayu Utami lagi di judul yang sekarang. Bukan untuk menarik minat baca masyarakat penggemar Ayu Utami dan menuai komentar yang bikin ge-er lagi (ampun deh!), tapi memang cuma itu penggalan kata yang terpikir waktu mulai ketik2 barusan. Maklum, seperti saya bilang tadi, saya bukan plagiator. Saya ‘cuma’ kurang kreatif.
Sudah 10 tahun ternyata
// January 25th, 2008Personality test
// January 10th, 2008Ikutan tes personality kayak yang lain hasilnya seperti ini :

Benarkah ? adakah korelasi antara hasil test kiri dan kanan ? ikutan test seperti ini memang cuma iseng saja karena kadang-kadang waktu menjawabnya juga bingung mesti jawab yang mana jadi asal pilih saja. Tapi kayaknya mirip-mirip juga sih. Mungkin ada rekan yang bisa mengenali saya lebih baik dari tes di atas ?
“We ate our 1 y.o. baby…!” : Edible Picture
// December 27th, 2007Ini bukan cerita tentang kanibalisme. Bukan juga lanjutan kasus Sumanto.
Ini tentang kue ulang tahun. Roti, kata orang Jawa mah. Bikin ‘roti’nya pake acara nangis darah berhubung kokinya amatiran; Saya, yang seumur idup baru bikin kue ’serius’ sendiri. Hasilnya lumayan, daripada lhumanyun; cake dari brownies kukus yg ngga cuma dihias krim dan gula2 bentuk dinosaurus & hati, yang bikinnya tapi juga photo anakku, yang satu senyum manis dan satunya lagi manyun sambil megang ’sorban’ (ambisi bunda dan para tante utk bikin pose imut). Bukan sembarang photo; Wangi manis gula, dgn rasa mirip2 kertas bakpao dan bisa dimakan alias edible. Jadilah, kami semua ‘memakan’ si dede sayang…
Edible picture ini kelihatannya sudah mulai jadi ‘trend’. Kalau selama ini kue alias roti utk perayaan2 biasanya dihias krim, bunga2, dan untuk acara anak2 biasa ditambah figure alias tokoh2 kartun kesukaan anak kecil seperti spongebob atau barney atau lain2, sekarang kue bisa dihias dengan photo. Terserah mau photo siapa, tapi biasanya photo yg dipasang juga photo yg ulangtahun. Idenya memang menarik; anak kecil juga bakal senang photonya bisa dicetak gede2 dan dipampang di kue ultahnya (cocok juga buat org2 narsis macem saya…hehehe…kalau jaman dulu sudah ada trend kue macam ini mungkin saya akan minta ulang tahun sebulan sekali!)
Saya sendiri dapat ide dari suami, yang kebetulan salah seorang temannya punya usaha pesanan kue termasuk kue dengan edible picture ini. Berhubung pengen nyoba bikin kue ~ceritanya ambisi pengen seperti ibu saya dulu yang selalu membuat sendiri kue ulangtahun untuk kami, anak2nya, akhirnya saya memaksa dan menyiksa diri. Saya memang ngga terlalu puas dengan hasilnya, tapi saya jadi punya semangat untuk nyoba lagi bikin kue. Apalagi, suami, ibu saya, dan mbak vita -teman suami saya tadi, menyemangati saya juga.
Yah, kali aja bisa bikin pencerahan buat saya, sekedar ada kegiatan selingan (itu juga kalau bisa diselingi dari ngurus si dede tercinta…hehe). Btw, klu mau kontak Mbak Vita atau mau liat2 blognya bisa liat di
Greenhouse bikin Global Warming…?
// December 9th, 2007Haduhaduhaduh!!!
Heboh Global Warming alias Pemanasan Global ternyata tidak hanya marak di kalangan ilmuwan, pemerintah & pemerhati lingkungan. Sejumlah kalangan yang (kelihatannya) ngga ada nyambungnya dengan urusan ini ternyata ikut juga prihatin dan bersuara. Salah satunya saya lihat di tayangan infotainment salah satu stasiun tv siang tadi.
Seorang diva Indonesia, yang terkenal dengan inisial namanya (kalau di acara kuis bakal ada clue atau petunju “dua huruf!”), dalam satu wawancara, menyatakan keprihatinannya mengenai global warming tsb. Saya kutip kata-katanya: “…Saya tadinya bercita-cita punya green house, tapi ngga jadi, karena katanya green house bisa menyebabkan global warming…”
Ng…..?!
Yah….saya bukan orang cerdas, bukan manusia yang pintar. Tapi rasanya ada yang aneh di kata-kata sang diva. Saya kira, mungkin yang dimaksud penyanyi kondang tsb, bahwa ia khawatir greenhouse (effect) akan menyebabkan global warming, sehingga dia tidak jadi membangun greenhouse (= rumah kaca). Tapi kalaupun itu yang dia maksud, rasanya masih ada yang aneh; Ngga nyambung soalnya!
Setahu saya juga, greenhouse (= rumah kaca) yang biasa dijadikan tempat bercocok tanam ~biasanya sih untuk tanaman yang khusus atau untuk pembibitan dalam pertanian/perkebunan~, tidak menimbulkan global warming; hanya ‘local’ warming sebatas dinding sang greenhouse tsb.
Sepertinya ada yang mesti menjelaskan sedikit perbedaan tsb pada sang diva….
dimanakan gerangan…? (tertohok anak kecil)
// October 14th, 2007Lagi2 keingetan lagu. Kali ini lagunya January Christy (maaf klu ada kesalahan dlm penulisan nama), yg smpt ngetop pas taun 1988/1989 gitu.
…melayang aku bersamamu, oh….
dalam harapan baru
melayang tinggi bayanganku
melayang…melayang
dan cuma itu.
ya, cuma itu syair alias kata2 lagunya.
sesingkat judulnya “melayang”
tp arransemen musiknya emang rada2 bikin pikiran melayang, antara lain karena mikir “ini lagu pendek banget?? Ngga selera pas bikinnya? kurang kreatif? atau kehabisan inspirasi? atau memang sesuai kata2 dan nuansa lagunya, menggambarkan org yg melayangkan pikirannya kemana-mana. Jadi ini into-lamunannya -apapun itu yg dilamunkan.
Anyway, setelah melayang itu kata2 ngga penting tadi, jadi ceritanya saya lagi bengong tadi; melamun ngga jelas juntrungannya. Tau2 keinget anak kecil, pemulung, yg saya temukan di pintu gerbang mal PVJ. Saya bener2 ngga sengaja melihat anak itu, pas lagi “melayang” setelah pontang-panting beli perbekalan mudik kmrn sambil menyusui bebe kecilku. Saya kaget lihat anak kecil, duduk di ujung trotoir dkt jalur keluar mobil. Saya smpt bengong, lalu ribut nanya ke suami if we can go back coz i wanted to go and talk to the boy. Saya pernah kebanyakan mikir waktu ada kejadian persis gini, dengan ’subyek’ seorg aki2 yg jelas keliatan emang butuh, bener2 mengemis karena butuh (atau setidaknya begitu asumsi saya, soalnya pengemis yg musiman atau sekedar manusia malas kan banyak dan kadang bisa didiagnosa MOnya…), dan gara2 itu akhirnya lenyaplah kesempatan saya utk mendekati si aki dan mencoba siapa tau saya bisa sekedar basa-basi dan nolong something sedikit aja mah.
Saya ngga mau kejadian itu terulang lagi (dan lagi, krn udah keseringan spt itu), jadi saya rada ngarewih ke mas suami utk dianter balik. And he agreed.
Akhirnya saya sampai ke dkt anak tadi, setelah diturunin mas suami di seberang jalan. Anak itu lagi duduk sambil tepekur, kepala dia baring di pahanya, tidur. Saya pikir dia pemulung krn dia bawa2 (ex) karung beras putih. MasyaAllah….paling tua dia seumuran keponakan saya, 10thn.
Saya coba bangunin dia tapi susah bgt, dan dia malah sempet rada ngigo waktu saya ‘guncang’2 pelan spy kebangun; “ngggh, cape…cape….!” katanya, rada ngga jelas. Saya jd keinget adik sy waktu dia ketiduran di ruang tamu rumah pulang latihan basket. Bedanya, anak kecil itu badannya dingin, karena wkt itu udah jam 1/2 10 malam. Kebayang kan, anak kecil ada diluar rumah semalam itu, bukan utk latihan basket tapi ketiduran krn kecapean, karena kerja…
Waktu akhirnya dia keliatan 1/2 terbangun, saya buru2 sodorin sedikit uang, sambil saya bilang bhw itu utk dia, dan saya mau dia pulang aja karena udah terlalu malam buat dia, bhw udara dingin dan dia sebaiknya tidur di rumahnya aja. Saya tanya dia, tinggal dimana, dia bilang “jali”… ngga jelas lagi, tapi pas dia liat uang yg saya simpan ditangannya, matanya membesar dan dia smpt nanya “ini…kembalian….?”
Ya Allah…..masa dia nanya kalau2 saya minta kembalian…??? Disitu saya mulai ngga tahan, rasanya tangis yg udah nyolok2 tenggorokan dan mata udah siap tumpah. Saya cuma bilang “Ngga, ini semua buat kamu! Kamu boleh pake apa aja; beli makan ya? Kamu udah makan?”
Dia jawab “belum…” Gimana anak seumur itu ada di jalanan, tanpa baju hangat, dan belum makan…???
Akhirnya saya bilang supaya dia cpt pulang aja, dan dia ngangguk. Jadi saya terus pergi.
Dan saya pun ngga tahan lagi, nangis sambil nyebrang menuju mobil; dimana suami dan anakku nunggu; dimana anakku melotot nunggu saya balik sambil pakai baju hangat; setelah kami belanja ini dan itu utk keperluan mudik, terutama buat anak saya, making sure bhw akan ada cadangan makanan utk anakku kalau2 saya ngga smpt (atau malas) masak.
…sementara anak tadi, pemulung kcl tadi smpt tertidur di trotoir, tanpa baju yg ckp hangat menahan hawa dingin, tanpa makanan, sementara dia seharusnya ada di rumahnya, tidur dengan selimut dan alas yg cukup hangat, dengan perut kenyang.
Saya nangis (hampir) sepanjang jalan pulang. Rasanya koq saya ngga bisa nolong dia, kenapa saya ngga berusaha ngasih anak itu ‘lebih’, koq saya ngga bisa anter dia pulang, making sure he’ll get enough (and proper) food, bed & shelter. Kami smpt lihat anak itu jalan buru2, mungkin mau pulang, sambil mukanya sedikit lebih segar. Moga2 apa yg saya kasih ada manfaatnya buat dia, dan yg jelas ngga sampai dipalak org lain!!! Saya pengen teriak sama ortu anak itu, kenapa anak sekecil itu dibiarin pergi kelayapan kerja sampai semalam itu, apalagi tanpa ‘perlengkapan’ yg bener.
Sakit rasanya.
Dan barusan, saya tiba2 inget anak itu. Waktu ‘melayang’. Saya melamun lagi, apa anak itu smpt ngerayain lebaran juga, apa anak itu setidaknya bisa dapet makanan, pakaian dan tmpt berlindung yg layak; apa orang tuanya bisa ngusahakan pakaian yg lebih hangat buat dia; apa orangtuanya sudah melarang dia keluar dan kerja sampai selarut itu… dgn bait lagu yg singkat, rasanya semua pertanyaan yg ada di kepala saya ngga bakal ketauan dan kalaupun ketauan, apa ya ada yg bisa peduli, bukan pada saya tp pada si anak kecil td…
Saya jadi merasa bhw selama ini saya masih banyak kurang bahkan tidak mensyukuri apa yg Allah berikan buat saya; bahwa saya segitu picik dan malas.Saya harus bisa jaga anak(-anak) saya supaya ngga sampe ngalami nasib seperti itu, apalagi worst!!! Amit2 deh!!! Terutama juga, saya harus belajar utk lebih mensyukuri apa yg sudah Allah kasih sama saya. Jangan sampai saya jadi manusia kufur ni’mat…Naudzubillah!!!
Legal Alien
// October 14th, 2007Kangen cd sting jadinya…
gara2 kemarin ngerasa so lonely di rumah mertua. Bukan apa2, saya satu2nya yg ngga berbahasa Jawa disini (selain anakku tentunya, yg ngomong aja masih blabap-blebep karna masih bayi).
Saya jadi mikir juga, berapa lama waktu yg diperluin seorang ipar/menantu buat bener2 menyublim dengan surroundingsnya -in average.
Saya, yang udah ampir 3 tahun lebaran di mertua masih ngerasa asing juga -lha wong ketemunya setaun sekali ini, pas lebaran. Kendala bahasa, plus tahun ini ada xtra kesibukan: megang anakku (doi bahagia banget dgn byk orang disekelilingnya, nanggep doi setiap saat dan siap membahagiakan dgn jalan dan gendong kesanakemari). Wadooooh, rasanya ampir ngga ada waktu buat sekedar basa-basi-bazhouk… Waktu semua org kumpul buka puasa terahir, saya sibuk menyusui sang cinta di kamar tidur. Gitu juga waktu semua org sungkem pas lebaran. I’m not complaining, heavens no! Justru saya bersyukur bgt, Alhamdulillah masih bisa menyusui cintaku bebe kapan aja dia mau. Cuma emang there’s the other side of it.
Ipar2 dari pihak keluarga (kandung) saya -isteri kakak2 dan adik saya- rata2 pada smpt tinggal satu rumah dengan saya dan orang tua (pondok mertua yg ngga terlalu indah maupun nyaman), gitu juga saya dan suami. Tapi toh tetep aja ada hal2 yang sulit disinkronisasi sebagai orang asing (legal) di lingkungan keluarga ipar/menantu (sebut aja In-Laws lah, biar gampang).
Tapi upaya inlaws saya buat membaur dengan sesama inlaws -menurut saya- relatif lebih mudah karena selain para menantu 75% adalah perempuan, usianya juga masih satu generasi lah. Jadi malah saya yg suka merasa tersisih sebagai non-kaum pendatang…(sensipe amat??)
Sementara saya, di tmpt mertua, adalah menantu dari anak paling kecil, yang usianya terpaut lumayan jauh (beda usia dgn suami aja udah 9 tahun, jadi dgn kakak ipar tertua beda usia saya sekitar…yah, sama lah jaraknya dengan saya ke adik ibu saya yg no.2, kelahiran thn ‘51)
Lumayan bikin bete kadang2, karena usia saya dgn keponakan tertua cuma beda 7 tahun. Sehingga kadang2 ada perasaan bhw inlaws saya memandang saya ngga jauh beda dengan keponakan kesayangan mereka. “Cuma” anak kecil. Topik pembicaraan ya kadang nyambung tp lebih sering lagi ngga nemu. Soal gap usia itu. Ditambah lagi mitos “orang kota vs orang kampung” tea.. (saya seh ngga merasa either one, bukannya sama2 tinggal di “kota X” dan “kota Y”…). Dianggap beda. Padahal sami mawon. Bukan mBE bukan pula kuDA.
Untungnya saya pendatang legal. Jadi masih bisa merambah kediaman mertua yg nyaman ini dengan leluasa, despite keramaian rutin dari motor tetangga yg slalu mbrobot meledak-ledak pas anakku baru tidur, atau obrolan si mbak tetangga dgn keluarganya, yg kedengeran mirip org brantem daripada ngobrol biasa karena cenderung memekik/menjuit, blm lagi keramaian petasan prepetan selama mlm takbiran dan lebaran.
Terlepas juga dari masalah kerasan/ngga kerasan, kendala bahasa ataupun ‘gap’ usia, rumah mertuaku ini memang ngangeni…Bahkan parasit legal ini-pun selalu menunggu saat mudik dengan semangat.
Jadi kadang saya merasa bhw di wilayah mudik ini, satu2nya yg nyambung klo bicara adalah….suami saya. Lhaaa….berasa di rumah sendiri ya?!









