Lebih dari setengah bayi lahir saat ini sering berwarna kuning, istilah bahasa inggrisnya jaundice. Jaundice disebabkan oleh deposit pigmen kuning yang disebut bilirubin dalam darah. Bilirubin ini adalah hasil dari pecahnya sel darah merah yang sebenarnya normal pada fisiologi tubuh manusia. Pada manusia dewasa bilirubin dipisahkan dari darah oleh liver dan dibuang pada sistem sekresi / kencing. Pada bayi yang baru lahir bilirubin yang dihasilkan melebihi kemampuan liver memprosesnya sehingga tidak dapat dibuang melalui sistem sekresi dan menjadi deposit dalam darah sehingga membuat kulit berwarna kuning. Warna kuning biasa mulai terlihat pada wajah kemudian bahu dan perut selanjutnya tangan dan kaki. Kondisi ini pada keadaan normal berlangsung mulai hari kedua kemudian memuncak sampai hari ke lima , kemudian akan berkurang pada hari ketujuh sampai kesepuluh.
Pada kondisi kandungan bilirubin rendah sampai menengah kondisi ini akan hilang dengan sendirinya tanpa perawatan tertentu, tapi pada kondisi yang tinggi (lebih dari 20mg/dl) biasanya pada bayi dilalukan perawatan fototerapi. Kondisi kandungan bilirubin yang tinggi ini kadang bisa dilihat pada kekuningan yang sudah mencapai telapak tangan dan telapak kaki. Kondisi kandungan bilirubin yang tinggi ini juga cenderung membuat bayi menjadi sering tidur dan tangisannya melemah. Jika terlihat gejala seperti ini sebaiknya segera diperiksa oleh dokter karena efek sampingnya dapat mengganggu sistem saraf otak.
Perawatan fototerapi harus dilakukan di rumah sakit dan harus memisahkan si bayi dengan ibunya yang pada sisi lain mempunyai dampak negatif. Misalnya membuat psikologis si ibu jatuh dan/atau membuat proses menyusui menjadi berkurang kualitasnya karena pada umumnya, kesempatan ibu untuk menyusui bayi yang berada dalam perawatan “dijatah”, dan si ibu biasanya disarankan untuk memompa ASInya sehingga tetap bisa diberikan kepada bayi; kondisi yang tidak selalu bisa dilakukan ibu menyusui, apalagi jika hal tersebut terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu setelah melahirkan, dimana ASI belum cukup banyak diproduksi dan kondisi psikologis si ibu yang belum membaik setelah melewati proses persalinan. Untuk mengurangi kemungkinan ini yang bisa lakukan oleh para ibu di rumah adalah dengan menjemur bayi di pagi hari sekitar 15 menit dan berikan ASI sebanyak mungkin supaya bayi semakin sering kencing untuk membuang kandungan bilirubin dalam darah. Tujuan fototerapi/berjemur ini adalah untuk membuang bilirubin melalui sekresi untuk membantu kerja liver. Sebenarnya ada satu alat yang disebut biliblanket, yaitu perangkat untuk melakukan fototerapi tapi berbentuk seperti selimut sehingga bayi tetap dapat disusui selama perawatan tapi alat ini nampaknya mahal dan belum terlihat ada di rumah sakit indonesia, semoga segera ada produk lokalnya.
Yang digambarkan diatas biasa disebut normal jaundice yang biasa muncul pada hari kedua sampai 7-14 hari. Kemudian, ada pula jaundice yang abnormal, yang biasa muncul pada 24 jam pertama atau baru muncul setelah berumur lebih dari 7-4 hari. Kondisi ini harus diwaspadai karena kemungkinan jaundice yang terjadi disebabkan oleh faktor lain misalnya ASI. Kondisi ini dikenal sebagai Breastmilk Jaundice. Breastmilk jaundice dapat disebabkan oleh tidak kompatibelnya golongan darah ibu dan anak yang menyebabkan kekuningan juga, dan kemungkinan munculnya tipe jaundice ini lebih besar jika salah satu ibu atau anak memiliki golongan darah O; tapi jaundice jenis ini jarang terjadi. Untuk mengatasinya pemberian ASI harus dihentikan dulu untuk sementara, sambil bayi diberi perawatan fototerapi jika kadar bilirubin dalam darahnya cukup tinggi.
Dede Zakki ,seperti kakanya Rana dulu, juga terkena jaundice. Pada waktu Rana dulu kadar bilirubinnya 12 mg/dl, sehingga oleh dokter langsung dirujuk untuk dirawat di bagian perinatal rumah sakit, yang membuat bunda jadi ‘down’ dan proses menyusui jadi terganggu, apalagi saat itu baru hari ke-4 dari kelahiran Rana dan ASI bunda belum benar2 keluar, masih berupa kolostrum -yang sebenarnya sangat baik untuk bayi yang baru lahir, namun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan cairan yang diperlukan Rana dalam proses perawatan, sehingga saat itu Rana diberi tambahan susu formula. Kali ini kadar bilirubin dede Zakki pada saat check up pertamanya ke dr anak tempo hari juga tinggi, bahkan mencapai 18.5 mg/dl tapi karena Zakki cukup kuat menyusu dan sekresinya banyak, dokter masih membolehkan Zakki dirawat dirumah hanya sekarang ada obat racik yang diberikan untuk membantu pembuangan bilirubin melalui air kencing. Semoga bilirubin Zakki mulai cepat hilang beberapa hari ke depan sebelum harus kontrol lagi.
Bayi Anda Kuning ?
// October 22nd, 2009Padhang mBulan
// October 2nd, 2009Yo prokonco dolanan nang njobo
Padhang mbulan , mbulane koyo rino
Rembulane-ne , sing ngawe-ngawe
Ngelingake ojo podho turu sore
Mangkat Sekolah
// October 2nd, 2009Saiki aku wis gedhe
Sekolah mangkat dhewe
Ora susah di eterake
Barengan karo kancane
Yen mlaku turut pinggiran
Ora pareng gojekan
Nang dalan akeh kendaraan
Mengko mundak tabrakan
Hidup di Atas Patahan
// October 2nd, 2009Sudah nasib rakyat Indonesia hidup di atas patahan dua lempeng benua. Sebagian besar wilayah Indonesia adalah wilayah rawan bencana gempa kecuali Pulau Kalimantan. Termasuk Bandung yang tepat berada di atas patahan lembang dan di lereng gunung Tangkuban Perahu, intaian bencana gempa tektonik maupun bencana gunung berapi sebenarnya hanya masalah waktu saja.
Sebagai umat beragama kita sering menyikapi bencana sebagai salah satu bentuk peringatan dari Yang Maha Kuasa atau bentuk cobaan supaya kita selalu introspeksi diri dan meningkatkan tingkat ketaqwaan kita. Sikap seperti ini jika diterapkan pada bencana gempa bumi menurut saya perlu dikritisi. Bencana gempa bumi untuk kita masyarakat bangsa Indonesia sebenarnya hanyalah masalah waktu yang tidak bisa diketahui dengan pasti kapan akan terjadi, tetapi suatu saat pasti terjadi. Sama halnya dengan kita sakit atau kita akan mati suatu hal yang pasti terjadi.
Karena bencana gempa bumi suatu saat pasti akan terjadi dilingkungan kita yang lebih penting adalah bukan bagaimana menyikapi setelah gempa terjadi tapi justru bagaimana menyikapinya sebelum bencana terjadi.
Sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana itu jika pada saatnya nanti menimpa lingkungan kita. Sikap bisa mulai dari keluarga kita sendiri misalnya bagaimana mempersiapkan pembangunan rumah kita yang lebih tahan terhadap gempa, para ahli bangunan perlu lebih banyak mempublikasikan disain rumah tahan gempa yang mudah diterapkan oleh masyarakat. Kita mulai sering mengingatkan anggota keluarga kita apa yang perlu dilakukan jika terjadi gempa, para ahli mitigasi gempa perlu lebih intensif mempublikasikan cara-cara menyelamatkan diri dari bencana gempa. Perlu dibuatkan banyak leaflet/brosur bergambar tentang antisipasi bencana gempa dan disebarluaskan. Pemerintah perlu makin ketat dalam mensyaratkan spesifikasi bangunan tahan gempa baik untuk perumahan maupun bangunan umum.
Mungkin masih banyak lagi yang perlu kita persiapkan sebelum bencana terjadi sayang saya tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menyampaikannya.
Mari bersama kita hadapi gempa baik setelah maupun sebelum terjadi, gempa bukanlah bencana yang hanya menghampiri kita kalau kita berbuat maksiat, gempa bagaimanapun juga akan menghampiri kita baik kita rajin berdoa maupun tidak, siap ataupun tidak. Seperti halnya MATI sebaiknya kita mempersiapkan diri sewaktu masih HIDUP !








