Total posts 128
Total comments 220

B6 d+ t+ k++ s u-- f- i- o+ x-- e+ l c-

Alone (again?)…naturally…

// July 13th, 2008

Well…..am not exactly alone. Tapi setelah 3 tahun ini sepertinya baru sekarang saya ngerasa so…lonely. I’ve got may little family near me, tapi koq rasanya sepi….?
Dulu saya sering ngerasa kayak gini. Alone in the crowd, menurut paririmbon bahasa planet. Saya ada di tengah teman2 sekelas jaman Sekolah, yg paling tidak ada 45 orang. Tapi saya ngerasa kesepian.

Mungkin bawaan saya yang sejak kecil dianggap “anak kecil” oleh teman2 sendiri, antara lain karena size badan saya yang memang termasuk paling imut di kelas; belum perilaku saya yg mereka anggap polos, mirip anak kecil. Bahkan ketika kemudian, saya tidak laki berperilaku mirip anak kecil, saya tetap dianggap anak kecil. Lagi2 karena ukuran body yg mungil alias kuntet. Bener2 deh. Ingatan tentang cap anak kecil itu bahkan sudah mulai sejak TK, waktu saya menggambar matahari dengan cara yg dianggap “tidak lazim” alias “tidak seragam” oleh teman satu group saya. Saya ngga pernah lupa kata2nya sampe sekarang “”biar aja, ngga apa2, dia kan masih kecil”….Padahal mereka sama ‘kecil’nya dengan saya -wong temen sekelas!

Waktu SMP, teman sekelas saya kelas 1, kebetulan laki2, bilang “Kamu tehlucu ya…kayak anak kecil…” -yang saya terjemahkan sebagai “kamu koq kuntet?”…. sementara yg bilang adalah anak yg badannya segede gaban; tinggi dan gemuk. Besar banget lah, pokoknya! Sempat ada perasaan senang juga dianggap kecil, karena anak2 yg ‘besar’, terutama laki2, cenderung lebih protektif sama saya. Tapi waktu upacara bendera tiap senin pagi (dan penurunan bendera sore, waktu masuk siang), terpaksa saya kebagian berdiri paling depan. Sikap badan harus sempurna, ngga bisa curi2 ngobrol bergossip dgn tmn2, ngga berani nguap karena di depan deretan guru plus wali kelas yg siapsedia melototin anak muridnya yg tidak tertib.

Waktu SMA, saya selalu kebagian diantar pulang paling dulu kalau anak2 sekelas main ampe malem. Sebenernya ini ada hubungannya dgn sikap ayah saya yg (sok) galak, beranggapan bahwa semua laki2 di dunia -kecuali dirinya- adalah penjahat (kelamin) yang siap melahap anak gadisnya. Tapi, lagi2, saya kebagian posisi depan waktu upacara bendera. Hhh…nasib…

Waktu kuliah, saya manfaatin aja size badan (yg udah mulai bulet -demplon, klu menurut temen2 main jaman kuliah) untuk nyelamatin diri dari deraan ospek. Lumayan, sbg seksi mampus saya ngga kebagian lari2 keliling bukit, nyebur ke sungai dan minum segelas rame2 berduabelas. Saya bisa dapet jatah makan lebih dulu, dan enak2an tidur siang di pos mampus. Haha.
Kemudian, lamaaaa kemudian, baru saya sadari juga bahwa perilaku saya yg seperti itu yang mendukung perasaan sepi alias lonely, dan terasing dari keramaian. Padahal semua ada di dkt saya.

…Dan yang paling jelas, saya merasa bahwa saya bukan subyek yang dianggap menarik untuk selalu diajak ‘bermain bersama’, oleh teman2 sekolah, sampai akhirnya saya menemukan teman2 yang menganggap saya ada, eksis klu kt ABG skrg. Waktu kuliah dan setelah mulai kerja. Rasanya “serangan sepi” itu cuma muncul ketika saya benar2 alone in the crowd i didn’t recognize.

Satu hal lagi yang saya sadari, bahwa serangan tadi kadang muncul ketika saya menutup diri dari dunia sekeliling. Biasanya saya lakukan waktu saya kesal, marah pada seseorang atau sesuatu. Seperti sekarang. Satu2nya obat adalah dengan berusaha untuk ‘tidak kesal &/atau tidak marah’, karena posisi saya sekarang membuat saya harus menelan kekesalan ataupun rasa marah. Karena jika tidak, akibatnya seperti saat ini, perasaan sepi dan terasing muncul lagi.
Saya memang bikin kesalahan dengan merasa kesal dan marah. Tapi sepertinya memang saya harus (selalu) menelan semuanya bulat2, karena saya sudah berjanji akan berusaha, sangat berusaha, menjadi pendamping yang (ter)baik.

Sepertinya saya harus mengingatkan diri sendiri lagi. Sekali lagi, untuk menghilangkan semua emosi. Dalam bentuk apapun. Karena saya hanya boleh senyum dan bersikap baik pada semua orang. Supaya bisa dianggap manusia.

No Comments »