Berita tentang hasil penelitian pak Wilson Wenas tentang sel surya generasi kedua sebenarnya sudah basbang. Yang baru saya ketahui adalah ternyata silikon yang digunakan bukanlah silikon kristal tunggal seperti pada generasi pertama melainkan nanosilikon. Sementara berita yang memang baru adalah pak Wilson Wenas sudah mendapatkan investor untuk membangun pabrik sel surya generasi keduanya di Indonesia. Semoga sukses !
Berdasarkan teknologi yang ditemukan pak Wilson Wenas ini membuat harga sel surya per wattnya menjadi jauh lebih murah. Saat ini sel surya generasi pertama harga dipasar berkisar 5-6 dollar per watt. Harga ini membuat sel surya agak susah bersaing dengan sumber energi lain karena masih terlalu mahal. Untuk skala rumah tangga yang mumbutuhkan daya sekitar 2000 watt membutuhkan biaya sekitar 100 juta.
Dengan teknologi generasi kedua kata pak Wilson Wenas harganya dapat mencapai 1 dollar per watt. Dengan harga semurah ini bukan tidak mungkin nanti sebagian besar rumah di indonesia akan menggunakan sel surya sebagai sumber energinya. Didoakan semoga pabriknya cepat dapat berproduksi , mau pesen 5000 watt nih untuk bakal kantor baru
.
Nanosilikon
// June 14th, 2008NANO2008
// June 9th, 2008Rencananya hari ini mau seharian di seminar Sintesis dan Fungsionalisasi Nanomaterial tapi ternyata cuma bisa tahan sampai makan siang. Bukannya materi seminar yang tidak menarik tapi tuntutan kerjaan dari klien utama membuat tidak tenang menyimak presentasi para pakar di seminar jadi diputuskan habis makan siang cabut.
Materinya tentu saja sangat menarik didominasi oleh sintesis nanostruktur dan ada beberapa yang membahas tentang karakterisasi material nano. Nano material yang disintesa juga banyak, mulai dari Carbon Nano Tube yang ngetop itu, trus ada juga sintesa material polimer konduktif. Metoda sintesa yang digunakan juga bermacam-macam.
Hasil penelitian yang dipaparkan sebagian besar dari penelitian lokal, ada beberapa dari malaysia. Nampaknya penelitian nano material di Indonesia sudah cukup aktif, tinggal menunggu dukungan dari pemerintah untuk mencapai hasil yang lebih maju lagi.
Dari session pagi yang sempat saya ikuti yang cukup mencuri minat saya adalah rekan dari ITS yang katanya sudah dapat membuat material berbentuk cair dan gel akan tetapi mempunyai sifat magnetik. Bahan dasarnya pasir besi yang diambil dari Lumajang. Aplikasi di masa depan sungguh sangat luas.
Yang membuat agak kecewa di session sore yang tidak dapat saya ikuti ada paparan tentang ide fotosintesa buatan yang bisa menjadi cikal bakal pohon sintetis
. Yang lebih parah lagi sudah tiga jam koneksi dial up ke klien gak nyambung-nyambung.
Mimpi pohon sintetis
// June 2nd, 2008Seandainya ada pohon sintetis mungkin masalah kekurangan pepohonan untuk menyerap CO2 di udara dapat terpecahkan.
Yang terpikir oleh saya adalah pohon sintetis ini akan mencontoh proses fotosintesa. Pohon sintetis ini bisa berupa lapisan zat aktif yang akan mengikat C dari CO2 di udara. Carbon akan diikat untuk membentuk suatu rantai karbon dan akan melepaskan O2-nya ke udara. Apabila lapisan ini sudah jenuh dan tidak dapat mengikat C lagi maka dapat dipanen dan diganti dengan lapisan yang baru.
Lapisan hasil panenan dapat diolah lagi menjadi bahan bakar alternatif atau bahan makanan atau sebagai bahan dasar untuk membuat serat karbon. Setelah diolah dimana rantai karbon pada lapisan ditransfer ke bentuk rantai karbon lain yang bebas maka lapisan dapat dikembalikan lagi ke jalanan untuk mengikat CO2 dan dipanen kembali beberapa bulan kemudian.
Mungkin dimasa depan energi tidak lagi hanya ditambang tapi dapat dipanen seperti halnya bahan makanan saat ini.
sumber pencerahan :
Seandainya Ayu Utami…
// June 1st, 2008Saya pernah menulis tentang Ayu Utami dan salah satu artikelnya yang berhubungan dengan mie instan. Waktu itu saya memang sedikit banyak terinspirasi cerita mie instan mbak Ayu, dan kesadaran sebagai konsumen yang (rada2) nagih mie instan, both karena enak dan gampang bikinnya.
Postingnya sih sudah lumayan lama, tapi ternyata sampai sekarang saya masih terima comments untuk tulisan tersebut (ada juga ya yg mau mbaca tulisan saya!? heuheuheu). Yang bikin kaget, beberapa diantara komentator sepertinya mengira tulisan tsb sebagai tulisan Ayu (waw!)… Tapi sebagian yang lain jelas2 tahu bahwa itu tulisan saya yang selalu nyablak dan korslet. Saya jelas rada ge-er…tapi sekaligus was-was, takut dikira plagiator alias tukang photocopy karya orang lain. Padahal saya cuma ‘kurang kreatif’ -yeah, right!
Kadang saya pengen banget membalas komentar bbrp rekan yang (kayaknya) salah tafsir tadi, tapi ngga jadi. Bukan karena saya mau membiarkan diri menikmati rasa ge-er dikira sebagai seleb (hmph!), tapi karena saya justru takut dikira ge-er, merasa bahwa mereka mengira saya adalah Ayu. Jadilah saya terdiam sendiri sambil senyam-senyum-mesem…bingung mau ngapain.
Yah, setidaknya sedikit banyak saya jadi terinspirasi buat nulis lagi di blog ini. It’s been a while juga soalnya; a loooooooooooooooong while. Sibuk dengan urusan “dewi lokal” (baca: Domestic Goddess), dengan segala aktivitas yang bikin heboh semua orang, termasuk nyaris membakar dapur karena kelupaan ‘ninggalin katel isi minyak di atas kompor. Ck..ck..ck..
Seandainya Ayu Utami di posisi “dewi lokal”, apa dia akan melakukan keteledoran yang sama?
Rasanya tidak; setidaknya menurut saya, karena yang selalu saya bayangkan adalah Ayu Utami si parasit lajang (maaf ya mbakAyu, bukan menjudge hanya menilai -apa bedanya??), yang masih menempel pada ‘inang’nya.Mungkin ada miripnya dgn masa2 saya sebagai parasit lajang jaman dulu. Hidup seperti tanpa beban kecuali kekhawatiran kapan saya naik gaji atau kapan saya dapat kerjaan tetap yang bonafidh sesuai harapan orangtua, kapan saya ketemu jodoh -yang ini lebih terasa kalau ada undangan pernikahan yang tiba2 muncul di pintu rumah, dari salah satu relasi keluarga atau teman saya. Soalnya pasti mendadak mata orangtua saya jadi terlihat khawatir sekaligus gemas setiap melihat saya. Padahal yg dipelototin lempeng2 aja…(sambil cemas juga jauuuuh di dalam.)
Seandainya Ayu Utami dan saya bertukar profesi sekarang ini, dijamin saya cuma bakal menjatuhkan nama seorang Ayu Utami. Saya belakangan sering browsing lihat2 tulisan yang ada hubungannya dengan matakuliah yang saya pegang, dan menemukan bahwa ternyata saya ketinggalan jauh dalam hal tulis-menulis. Bukan hanya karena tidak produktif, tapi terutama karena banyak banget blogger dan penulis artikel yang lebih muda, membahas topik terkini dengan tajam, kritis, kadang sinis, dengan dukungan data superlengkap, dan lengkap juga dengan link kesana-kemari, plus daftar pustaka yang berderet. Hasilnya, tulisan yang menurut saya dashyat. …dan disinilah saya; terinspirasi tulisan2 mereka; dan dengan semangat mulai menyiapkan bahan kuliah dengan rujukan tulisan2 itu; dan merasa sangat tidak ‘nyaman’ disaat yang sama. Terasa sekarang betapa saya tidak produktif, padahal fasilitas penunjang sudah lengkap: browsing bisa kapan saja (kalau ‘boss kecil’ saya sudah lelap tidur, tentunya), ada ‘occasion’ yang menuntut saya untuk produktif menghasilkan sesuatu. Tapi tetap saja, saya (merasa) sibuk bertugas sebagai ’sang dewi’; dan merasa sangat malu dan ngga pe-de. Saya makin merasa betapa saya tidak berusaha meng-update isi kepala, padahal teknologinya di depan mata. A single -or double- click, and the world will be opened widely Tapi ya dasar sifat manusia (baca: saya): malas. Saya pun berubah jadi makhluk kecil (kalau ngga bisa disebut kerdil) mirip si Plankton yang selalu ambisius pengen mencuri resep rahasia crabby-patties. Bedanya adalah, plankton selalu berusaha meng-update cara terbaik untuk merampok si resep rahasia, sementara saya (merasa) sibuk dengan ‘dunia kecilku’.
Tapi seandainya Ayu Utami ada di posisi saya, belum tentu juga dia bisa jadi the real goddess seperti saya ini…hehehe. Atau malah neng Ayu jadi lebih baik dari saya??
Seandainya Ayu Utami baca tulisan saya, pasti dia eneq deh. Dijadiin obyek tulisan ngalor-ngidul orang insomnia ini.
One more thing.
Saya ‘pinjam paksa’ nama Ayu Utami lagi di judul yang sekarang. Bukan untuk menarik minat baca masyarakat penggemar Ayu Utami dan menuai komentar yang bikin ge-er lagi (ampun deh!), tapi memang cuma itu penggalan kata yang terpikir waktu mulai ketik2 barusan. Maklum, seperti saya bilang tadi, saya bukan plagiator. Saya ‘cuma’ kurang kreatif.








