Tadi siang saya lihat berita di tv tentang sebuah ormas Islam di Cianjur yang men-sweeping warung2 yang jualan makanan di siang bolong. Ada yang salah? Sebenarnya sih ngga ada, tp berhubung mereka jualan makanan siang hari pas bulan puasa, para anggota ormas berpendapat bahwa tukang2 makanan tsb tidak menghormati umat Islam yg sedang berpuasa ramadhan.
Jadilah para muslim yang berpuasa menahan lapar, haus, dan hawa nafsu tsb merusak gerobak, kursi-meja serta tenda dan memaki sang ibu2 pemilik dagangan yang (disorot kamera) menangis meratap-ratap; jelas karena kegiatan berdagangnya berantakan; karena berarti tidak ada pemasukan hari itu, sesuatu yang saya yakin sangat diperlukan keluarganya karena rasanya ngga mungkin si ibu dagang sekedar untuk bersenang-senang mengisi waktu luang sambil ngabuburit.
Saya cuma terperangah dan sedikit banyak marah. Bukan sok membela, tapi saya kira si ibu tidak memasang undangan bagi kaum muslim yang berpuasa untuk batal puasa. Bukan pula, saya yakin, si ibu dan sejumlah pedagang lain sengaja jualan untuk menghina umat Islam yang berpuasa. Mereka hanya sekedar melakukan pekerjaan -yg saya kira halal- untuk dapet uang. Yang saya ngga habis pikir, orang2 di ormas tadi mengaku muslim, manusia beragama, Islam pula, sedang berpuasa Ramadhan, tapi koq ya ngga bisa pakai cara yg baik untuk menegur orang2 yang ‘menghina’ tsb. Tanpa acara menghancurkan properti milik orang lain dan memaki2. Lha bukannya yg spt itu yg bikin puasa makruhm bahkan batal? Seingat saya yang pengetahuannya sangat terbatas ini, dalam Qur’an maupun Hadist ngga ada larangan bagi seseorang untuk jualan makanan di bulan puasa. Lha ya asal jualannya yg halal dan dengan “menghormati yang sedang berpuasa”, dengan cara menutup warungnya pakai kain2 sehingga orang2 yg ngga puasa bisa ttp makan tanpa menyuguhkan pemandangan yang menggoda orang puasa. Sah-sah aja.
Maaf ya, saya ttp berpendapat org muslim di Indonesia ini banyak yang munafik. Termasuk saya. Kenapa harus selalu “Hormati KAMI, SAYA, yang sedang berpuasa!!!”. Harus orang lain yang menyesuaikan diri. Bukannya sebagai muslim yang baik mereka juga harus pintar2 menjaga emosi, menahan hawa nafsu, dan juga menghormati orang yang TIDAK puasa, karena yang tidak puasa juga butuh makan. Bahwa muslim adalah golongan mayoritas di Indonesia ngga bisa dijadiin alasan.
Hmph! Minta dihormati, tapi apa mereka bisa menghormati orang lain, yang sekedar berusaha dagang untuk dapet uang? Kalau dagangnya miras atau narkoba yha monggo digerebeg -dengan cara yang baik namun tegas juga tentu. Apalagi prostitusi. Tapi keseharian diluar bulan ramadhan, mereka bebaskan mata mereka melototin perempuan, mem-poligami istri(istri)nya tanpa ijin sang istri(istri), menzhalimi manusia lain…
hwampun deh….
Saya bukan manusia suci, tapi gimana bisa memberi contoh yang baik untuk sesama muslim kalau bersikap baik, fair dan menghargai manusia lain aja ngga bisa…
Mengingat ucapan guru agama jaman SD dulu, bhw di bulan puasa (ramadhan?) syetan dibelenggu, dirantai oleh Allah; jadi logicnya adalah manusia “hanya” berhadapan dengan hawa nafsu dari dalam dirinya tanpa bisikan dan godaan. Lhaaa, ya ternyata hawa nafsu ini lebih ‘buas’ ya dari hasutan syetan….
Astaghfirullah…
|
No Comments »