Total posts 128
Total comments 220

B6 d+ t+ k++ s u-- f- i- o+ x-- e+ l c-

Solusi Hutan Tower

// August 9th, 2007

Mungkin ini bisa jadi solusi hutan tower : Carriers Now Required To Allow Roaming

No Comments »


S1 kok nge-review Doktor

// August 7th, 2007

Minggu pagi kemarin temen yang sekarang dosen di STEI ITB nelpon. Beliau minta saya untuk jadi reviewer paper hari senin. Tidak jelas apa kriteria reviewer sehingga beliau memilih saya mengingat saya sudah 15 tahun meninggalkan kampus dan hanya tamat S1. Katanya sih beliau perlu reviewer dari luar. Oke lah saya sanggupi hitung-hitung sekalian mengenal kembali komunitas kampus.
Saya dapat jadwal review jam 15.30 sampai jam 17.30. Topiknya tentang eHealth dan NGN. Kalau NGN mungkin agak pas karena memang di kantor kita sedang mengerjakan hal tersebut, untuk eHealth waduh hanya samar-samar nih, yang kebayang cuma aplikasi rumah sakit. Saya sudah minta untuk dikirim paper-nya lewat email tapi sampai senin pagi kok belum sampai. Tidak apa-apa-lah toh cuma dua paper saja , sepertinya waktunya cukup luang.
Saya baru sampai kampus sekitar jam 15.00 ternyata ini kesalahan besar, tapi apa mau dikata tadi pagi ada meeting sampai jam 12.00. Kenapa salah besar karena ternyata waktu yang tadi nya dua jam mulainya diundur jadi tinggal satu setengah jam dan selama itu ada tujuh ( ya tujuh ) paper yang harus direview. Setiap paper hanya dapat jatah 10 menit untuk presentasi  dan tambahan satu buah pertanyaan saja. Kebayang kan gimana cara mereviewnya. Yah semoga saja review saya masih dapat dipertanggung jawabkan menginggat ada beberapa point penilaian yang saya kurang mengerti maksudnya dan tidak ada waktu untuk minta penjelasan dan ada point yang menurut saya tidak ada informasi pendukung yang didapat dari presentasi. Yang membuat makin merasa bersalah adalah pas mau pulang ternyata diberi amplop.
Secara keseluruhan materi paper bagus ada beberapa yang masih teoritikal tapi akan sangat bagus kalau diimplementasikan melalui dunia industri.
Yang membuat saya makin kagum adalah setelah ngobrol dengan teman yang mengundang tentang acara hari itu yaitu Digital Culture Exhibition and Rural ICT. Beberapa paper yang datang dari STEI ITB ternyata didanai oleh PPTIK STEI ITB. Tahun ini PPTIK mempunyai dana sekitar satu milyar rupiah untuk penelitian. Kelihatanya besar tapi sebenarnya kecil untuk mendukung banyak penelitian. Dari sejumlah tersebut dibagi-bagi menjadi banyak proyek penelitian dimana masing-masing mendapat dana 25 juta rupiah.  Ternyata hasil penelitiannya tidak mengecewakan untuk budget yang terbatas menurut saya.
Salut dengan strategi yang diambil. Salah satu penyebab hasil penelitian di Indonesia kurang banyak yang bagus adalah karena jumlah peneliti yang masih jauh dibawah critical mass. Dengan program ini diharapkan makin banyak muncul peneliti baru yang pada akhirnya akan memunculkan peneliti-peneliti bermutu yang akan menghasilkan hasil bermutu pula.  Tahun depan mungkin peneliti-peneliti sekarang akan mendapatkan budget yang lebih longgar dan akan muncul peneliti-peneliti muda lain yang menggantikan posisi mereka tahun ini. Bravo untuk PPTIK STEI ITB , semoga suatu saat nanti dapat menjual hasil penelitiannya ke industri lokal.

Powered by ScribeFire.

No Comments »


Air berasa Itali

// August 4th, 2007

Siapa yang ngga tau air mineral botolan atau gelas-an, yg secara umum dikenal dengan AQUA - (note: saya ngga berniat menyebut merk dagang). Rasanya di warung paling terpencil pun kita bisa menemukan air mineral kemasan ini, dengan berbagai merk dagang.

Selama ini saya cuma mengkonsumsi air mineral produk dalam negeri; bukan karena saya fanatik dgn produk dalam negeri, tapi memang yg umum tersedia ya itu. Walaupun di pasaran ada beberapa merk air mineral kemasan botol, yang tentunya dijadikan produk ekslusif. Ada yg produk amerika, eropa, dll. Nah, tadi siang waktu belanja ke swalayan, suami nunjukin air mineral impor ‘berperisa’ Italia. Mengklaim bahwa produknya diperoleh dari mata air pegunungan tuscanny, jadi penasaran juga; “sebelum ke itali cicipin dulu airnya…”, ceritanya seh (kapaaaan ya ke itali?! hehehe), kata suamiku. While me, half wishing -stupidly- that ‘going to italy part will come true…huahahahaha!

Mas suami nyengir setelah mencicipi si air italia; menurut doi yha ngga beda rasanya dari air mineral lokal. Buat saya, ada sedikiiiiit rasa yg beda. I cannot explain it (karena saya ngga se-jenius Jang Geum dalam ‘menggambarkan rasa’), tapi saya pernah minum air mineral impor juga dulu dan rasanya memang ada sedikit beda dgn rasa lokal. Ada lah ‘tingling’nya. Bukan karena pengaruh kemasan cap itali-nya lah…Padahal, siapa yg tau apa itu air bener2 diambil dari air pegunungan itali; bisa aja bukan dari itali, atau mgkn dari itali tapi mata air manaaaa gitu, atau malah air -re-cycled….hehehe…

Bisnis yang menguntungkan kah air mineral? Yang jelas kalau disini banyak agen isi ulang air mineral (jualan per-galon tentunya..kalau isi ulang gelas nampak merugi), dengan kualitas air yang hmh..ngga jelas sampa ada yg pernah mensinyalir bhw si air2 isi ulang macam depot-an gitu mengandung bakteri sampai kuman2 yg namanya pun saya ngga hafal. Tapi lagi, siapa yg bisa menjamin bhw air mineral yg namanya paling top di negeri ini -dan juga si air impor dari negeri itali- bebas virus ataupun kuman2…? Bening sih bening, tapi dalamnya (air) siapa yg tau?

No Comments »


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

// August 1st, 2007

Hingar-bingar PLTSa di Bandung sudah dingin lagi sepertinya. Untuk saya sendiri masih meninggalkan beberapa pertanyaan yang tersisa. Salah satunya adalah teknologi seperti apa yang akan digunakan. Hal tersebut mestinya sudah dibahas di Studi Kelayakan yang sudah dilakukan. Di berbagai publikasi baik koran, televisi maupun radio saya belum pernah membaca, melihat atau mendengar tentang hal tersebut, mungkin terlewat. Dari hasil googling pun ([1],[2],[3]) tidak didapatkan pernyataan yang eksplisit. Pertama kali yang terlintas dalam pikiran saya dan yang secara implisit dikemukakan dalam banyak tulisan tersebut adalah sampah (apapun isinya) dibakar dan diambil panasnya untuk dikonversi menjadi listrik. Konversinya bisa saja dengan menguapkan air dan uapnya digunakan untuk memutar turbin yang pada gilirannya akan memutar generator listrik untuk menghasilkan listrik, atau dengan cara lain (?).
Proses pembakaran sampah ini yang banyak diprotes karena menghasilkan polusi sampingan yang bisa saja beracun tergantung pada jenis sampah yang dibakar. Keberatan lain adalah hasil sampingan yang dihasilkan oleh sampah sebelum sampah menunggu gilirannya dibakar, seperti misalnya air lindu.
Terlepas dari pro dan kontra bagaimanapun problema sampah harus diatasi dan solusi energi yang renewable juga semakin dibutuhkan. Solusi PLTSa masih tetap bagus menurut saya, hanya teknologinya yang harus dicari yang lebih cocok.
Salah satu solusinya adalah pemakaian biogas microturbine. Cara kerjanya seperti mesin turbojet pada pesawat terbang hanya mempunyai skala yang lebih kecil. Udara dimampatkan oleh suatu kompresor kemudian dicampur dengan bahan bakar kemudian di bakar sehingga mengalami ekspansi. Gas yang berekspansi ini tekanannya digunakan untuk memutar turbin yang berikutnya akan memutar generator listrik. Dalam biogas microturbine ini bahan bakar yang digunakan adalah biogas yang dihasilkan oleh sampah. Hanya sampah yang digunakan disini harus sudah dipilih hanya sampah yang biodegradeable.
Instalasi biogas microturbine ini sudah banyak dipasang di eropa. Daya yang dihasilkan bisa mencapai 60kW bergantung kepada ukuran reaktor biogas, ukuran microturbine dan pasokan sumber biogas.
Dengan skala kecil seperti ini maka PLTSa tidak perlu besar-besaran lagi tapi bisa di instalasi di setiap kecamatan/kelurahan atau didekat pembuangan sampah sementara. Yang diperlukan mungkin kemudahan investasi dan kemudahan penjualan listrik kembali.
Referensi tambahan :
- MICROTURBINES AND THEIR APPLICATION
IN BIO-ENERGY

6 Comments »


Kenapa tidak tebu ?

// August 1st, 2007

Setiap membaca artikel tentang bahan bakar nabati yang sering di angkat adalah biodisel yang nanti muaranya ke pengembangan perkebunan jarak. Bahan bakar nabati lain yang lebih jarang disebut adalah bioethanol yang digunakan untuk menggantikan premium dkk. Kalau bicara tentang biethanol saat ini sebagian besar akan bermuara ke tanaman jagung. Kenapa tanaman jagung ? Bukankan kita masih punya tanaman lain seperti tebu yang hasil ethanolnya lebih besar dibanding jagung. Untuk negara-negara sub-tropik dimana jagung lebih mudah tumbuh tentu saja lebih memungkinkan, tetapi dibanding tebu ongkos produksi ethanolnya juga akan lebih mahal. Ada yang tahu kenapa ??

3 Comments »