Saya pernah baca biografi seorang mantan pasukan pengawal presiden AS di salah satu majalah. Saya terkagum-kagum, membayangkan betapa mereka jadi barikade nyawa bagi sang presiden. Prosedur pengamanan bagi orang nomor satu di AS (dan mgkn salah satu yg paling berpengaruh juga di dunia) itu bukan main ketatnya. Butuh individu2 dengan pendidikan dan keahlian khusus untuk sekedar menghantar diri menjajakan jasa perlindungan dengan taruhan nyawa (saya kira gaji-nya pun nggak ece2…heu). Kemarin juga waktu Bush smpt menginjakkan kaki di indonesia untuk tidak lebih dari 24 jam, proses pengamanannya bikin pusing semua orang, sampai mengorbankan salah satu taman di Istana Bogor, menimbulkan protes kepala kebun istana dan sejumlah masyarakat. Soalnya halaman tempat rusa tutul biasa jalan2 itu disulap jadi landasan pendaratan helikopter untuk juragan Bush. Udah gitu ternyata ngga jadi dipakai pula; mungkin cuma dijadikan pengalih perhatian publik (dan teroris?), karena proses persiapannya masuk koran dan bisa difoto-foto segala. Huh!
Sementara Indonesia….
Paspampres kita kemarin kecolongan di Ambon, waktu SBY hadir dalam perayaan Hari Keluarga Nasional. Wkt Gubernur Ambon pidato, mendadak muncul ‘pasukan’ penari Cakalele ke lapangan, mula2 nari2 aja, dan belum beberapa menit sudah berusaha digiring keluar karena mereka sebenarnya ngga dapat jatah menghibur tamu dan presiden. Tau2 sambil berbalik mereka mengeluarkan bendera besar, bendera Republik Maluku Selatan alias RMS, yg sejak saya SD (which means, more than 2 decades ago!) udah exist di dunia politik+hankam Indonesia. Hebohlah wartawan.
Kebayang dong, acara yg dihadiri orang no. 1 Indonesia bisa disusupi seperti itu. Salah satu harian nasional menulis :”Aktivis gerakan separatis RMS yang menyamar sebagai penari cakalele menyusup ke lingkaran satu pengamanan Presiden RI di Lapangan Merdeka dan mencoba membentangkan bendera RMS dalam peringatan Hari Keluarga Nasional di Ambon…”
Bayangin….lingkaran satu berarti lingkaran terdalam, yg paling dekat dgn Presiden, bisa ditembus dengan gampang. Kalau kata orang Sunda “Lamun oray mah geus macok!” (kalau itu ular, sudah mematuk!)…
Segitu longgarnya kah penjagaan?? Ini baru menjaga manusia yg (kebetulan) jadi icon utama negara kita, lha gimana penjagaan keutuhan negara dan kepulauan Indonesia kalau gitu?? (nasionalis sekali bunyinya) Mengerikan.
Saya jadi ingat, keributan beberapa waktu ketika media mengekspose berita bahwa ada sekumpulan pulau kecil di wilayah Indonesia yang sudah dibeli, sudah disertifikasi Hak Milik oleh seorang warga negara asing. Ya, oleh orang yg bukan orang Indonesia, dan sedang dalam proses dijadikan semacam resort alias dipersiaplan untuk dikomersialisasi. Padahal Undang-undang disini jelas menyatakan bahwa hak kepemilikan tidak boleh diberikan kepada orang asing, yg bukan WNI aseli. Ada argumen bahwa setifikasinya diatasnamakan seorg WNI, tapi ya kalau sekedar pinjam nama ya sama aja bo’ong judulnya!
Belum lagi privatisasi sejumlah perusahaan, yang sahamnya dibeli perusahaan asing. Majority, that is. Mungkin dianggap bahwa itu bagian keberhasilan (orang) Indonesia menarik investor asing utk menanamkan modalnya di Indonesia, tapi keuntungan terbesarnya ya lari ke luar negeri. Orang Indonesia-nya, cuma jadi TKI di negeri sendiri. Sungguh Indonesia negara pensuplai tenaga kerja terbesar di Asia.
Menyedihkan memang. Saya ngga mencoba sok kritis disini, cuma kadang sedih waktu ngobrol dgn sejumlah mahasiswa saya dari dua sekolah tinggi; mereka sering mempertanyakan “kenapa” pada saya, yang harus bisa menjawab dari dua sisi mata uang. Sulit untuk menjawan dengan tidak memaki kemunduran yang terjadi di negara tercinta. Tapi apa yang bisa saya buat untuk itu? Selain berusaha menanamkan sedikit sanity, sedikit kesadaran buat calon penerus bangsa ini untuk berusaha menjaga keutuhan sumberdaya nasional, demi masa depan mereka, keluarga, dan anak-cucu mereka (dan saya) nantinya.
Nasionalis sekaleeeee…….!!!








