Film Congo kemarin diputar lagi di HBO. Sebenarnya saya sudah melihat film ini sejak diputar di bioskop tetapi menonton kemarin jadi lebih menarik dan membuat berkhayal macam-macam. Gara-garanya adalah di kantor baru saja browsing tentang solid state gyroscope.
Bagian yang menarik adalah membuat gorila bicara. Lebih tepatnya sebenarnya mengajar bahasa isyarat ke gorila dan menggunakan alat tambahan untuk menterjemahkan bahasa isyarat ke suara. Sepertinya teknologi ini sangat fiktif sekali, tapi dari sisi teknologi alatnya sebenarnya sudah sangat memungkinkan.
Ukuran solidstate gyroscope saat ini sudah cukup kecil untuk diletakkan di pergelangan tangan. Dengan penempatan gyros tersebut memungkinkan mendeteksi gerakan tangan untuk diproses oleh microprocessor. Dengan menggunakan bantuan teknologi lain seperti Digital Signal Processing , pattern recognition dan text-to-speech gerakan tangan tadi dapat diterjemahkan menjadi suara dengan memanfaatkan kamus yang sudah disimpan.
Dengan kemampuan microprocessor dan kapasitas flash memory yang tersedia dipasar saat ini ukuran dari alat penterjemah tersebut mungkin tidak perlu sebesar ransel lagi tapi cukup sebesar PDA, atau mungkin saja aplikasinya berjalan di atas PDA yang disambungkan dengan sensor gyroscope.
Tinggal menunggu kapan muncul di pasaran nih , atau sebenarnya sudah ada ?
Sign Language Translator
// August 26th, 2005Kebiasan Buruk Baru
// August 24th, 2005Ya akhir-akhir ini saya merasa kebiasaan buruk saya bertambah satu. Sebelumnya saya paling benci kalau melihat pengendara kendaraan bermotor menabrak lampu merah atau melihat lampu kuning malah menekan gas. Saya berpendapat semestinya pengendara menekan rem pada saat melihat lampu kuning. Tapi beberapa minggu terakhir ini saya menjadi cukup sering menabrak lampu kuning, rasanya ada yang sayang kalau mesti menekan rem.
Saya bingung kok jadi seperti ini ?? apa karena akhir-akhir ini saya sering melaju dengan kecepatan diatas 40km/jam sehingga selalu merasa tanggung pada saat ada lampu kuning ?
Ada petunjuk dari rekan-rekan ??? atau jangan-jangan mayoritas pembaca entri ini penggemar tabrak lampu kuning ![]()
Kemandirian Industri Militer
// August 19th, 2005Pentingkah kemandirian industri militer ? Menurut saya penting , dan hal itu yang mendorong saya untuk menulis entri ini.
Menyedihkan rasanya sudah 60 tahun MERDEKA tapi masih diremehkan oleh negara tetangga paling dekat, mulai dari kasus Ambalat sampai yang terakhir kasus penodongan kapal patroli polisi air. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah karena lemahnya sistem persenjataan yang kita miliki. Lemahnya persenjataan tersebut disebabkan karena adanya berbagai macam embargo dan memang kelihatannya daya beli militer Indonesia memang kurang. Kejadian seperti ini mungkin akan tidak terlalu parah seandainya memang Indonesia telah memiliki industri militer mandiri yang dapat mendukung sistem persenjataan ABRI. Keberadaan industri militer ini tentu akan membuat penghematan yang cukup signifikan dan sebagian besar uang yang dikeluarkan tidak akan mengalir ke luar negeri tapi tetap ke industri di dalam negeri.
Sebenarnya ada beberapa hal lain yang membuat suatu negara selayaknya mempunyai industri militer yang mandiri walaupun katakanlah tidak mengalami embargo dan mempunyai daya beli yang cukup. Yang menjadi permasalahan adalah negara penjual senjata tentu saja tidak mau senjata yang dia jual akan dipergunakan oleh negara pembeli untuk menghalangi kepentingan-kepetingannya. Ada banyak contoh dalam hal ini misalnya F16 yang dimiliki Indonesia mungkin hanya bisa untuk berpatroli di wilayah Indonesia saja dan itupun mungkin tidak akan dapat mengejar pesawat negara lain yang dengan sengaja melewati wilayah udara Indonesia. Kualitas ekspor untuk F16 mempunyai arti yang terbalik dengan kualitas ekspor produk TPT Indonesia. Perangkat apa lagi yang rentan terhadap pengkebirian seperti ini ?
Perangkat penyandi yang dibeli dari negara lain walaupun menggunakan algoritma yang canggih dan kunci yang kompleks biasanya menggunakan initial value yang pre-defined sehingga memudahkan negara produsen untuk membongkar pesan yang sudah di sandikan.
Radar juga bagian perangkat pertahanan yang sering dikebiri. Produsen radar dapat menyelipkan kode-kode tertentu yang dapat dipancarkan oleh pesawat milik pemerintahnya atau sekutunya yang akan membuat radar tersebut buta.
Tentunya masih banyak arsenal pertahanan yang rentan terhadap masalah seperti ini seperti Rudal yang jangkauannya dikurangi dan sebagainya.
Menyadari hal seperti itu sudah selayaknya Indonesia mempunyai industri pendukung pertahanan yang mandiri. Kalau dilihat sumber daya manusia dan komponen-komponen pembangunnya mestinya hal tersebut sangat mungkin, tinggal niat baik bersama dan mengesampingkan keuntungan jangka pendek yang biasanya hanya dinikmati segelintir orang.
Utak-utik CSS
// August 11th, 2005Bosen kerjaan gak selesai-selesai jadi aja ngoprek CSS. Kali ini bahan dasarnya desain Plain V1.0 karya James Koster , sasarannya adalah template untuk Planet. Hasilnya dapat dilihat di lensa.or.id.
Bagi yang minat download aja.
Sasaran berikutnya : theme WordPress








